SDGS DI BALIK KARTU MAJAS: CERITA PRAKTIK KEPENDIDIKAN DI SD NEGERI GEDONGKIWO

Kegiatan Praktik Kependidikan (PK) berupa pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi majas metafora, personifikasi, dan hiperbola dilaksanakan di SD Negeri Gedongkiwo. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Faza Maulana Ardan dengan NIM 23010630191, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dengan sasaran peserta didik kelas V. Pembelajaran dirancang dengan kegiatan yang melibatkan peserta didik secara aktif melalui penjelasan materi, tanya jawab, diskusi, serta permainan edukatif “Detektif Majas” menggunakan media kartu majas. Kegiatan ini memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang aktif, menyenangkan, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami materi melalui pengalaman langsung.

Pembelajaran bertujuan agar peserta didik mampu menjelaskan pengertian majas metafora, personifikasi, dan hiperbola, mengidentifikasi jenis majas dalam sebuah kalimat, serta membedakan penggunaan ketiga jenis majas tersebut. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan apersepsi melalui contoh kalimat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Guru kemudian menjelaskan pengertian dan ciri-ciri majas metafora, personifikasi, dan hiperbola dengan menggunakan media pembelajaran. Peserta didik diberikan beberapa contoh kalimat dan diajak untuk menentukan jenis majas yang terdapat di dalamnya. Kegiatan tersebut dilakukan melalui tanya jawab agar peserta didik dapat memahami materi secara bertahap.Setelah memahami materi, peserta didik mengikuti kegiatan utama berupa permainan “Detektif Majas”. Dalam kegiatan ini, peserta didik berperan sebagai detektif yang bertugas menemukan dan mengidentifikasi jenis majas pada kartu yang telah disiapkan. Setiap kartu berisi sebuah kalimat yang menggunakan majas metafora, personifikasi, atau hiperbola. Peserta didik mengambil kartu, membaca kalimat, kemudian berdiskusi untuk menemukan “petunjuk” berupa jenis majas yang digunakan. Setelah menentukan jawabannya, peserta didik menyampaikan alasan mengapa kalimat tersebut termasuk ke dalam majas tertentu. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret karena peserta didik tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga secara langsung mencari, mengidentifikasi, dan mengelompokkan contoh majas.

Kegiatan “Detektif Majas” juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dan menyampaikan pendapat. Peserta didik berdiskusi dengan teman kelompok dalam menentukan jawaban pada kartu, kemudian mempresentasikan hasil temuannya di depan kelas. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dilatih untuk menyimak, membaca, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan memberikan alasan berdasarkan pemahaman terhadap materi. Pembelajaran menjadi tidak hanya berfokus pada kemampuan menghafal pengertian majas, tetapi juga pada kemampuan menerapkan pengetahuan dalam mengidentifikasi contoh kalimat.Setelah permainan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penguatan materi dan evaluasi untuk mengetahui pemahaman peserta didik mengenai majas metafora, personifikasi, dan hiperbola. Berdasarkan rangkaian kegiatan, penggunaan kartu majas membuat peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar melalui aktivitas yang interaktif dan menyenangkan. Peserta didik dapat memahami bahwa majas tidak hanya ditemukan dalam buku pelajaran, tetapi juga dapat digunakan dalam berbagai kalimat dan karya bahasa yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan pembelajaran ini memberikan pengalaman belajar yang mendukung SDG 4 Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan bermakna. Kegiatan “Detektif Majas” mendorong peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses menemukan jawaban, berdiskusi, dan mengomunikasikan hasil pemikirannya. Penggunaan media kartu juga menjadi salah satu alternatif media pembelajaran Bahasa Indonesia yang sederhana dan dapat membantu peserta didik memahami konsep yang bersifat abstrak melalui contoh-contoh konkret.Sebagai tindak lanjut, media kartu majas dapat dikembangkan dengan menambahkan berbagai contoh kalimat dan tingkat kesulitan yang berbeda. Peserta didik juga dapat diberikan kesempatan untuk membuat kartu majas mereka sendiri dengan menuliskan contoh majas metafora, personifikasi, atau hiperbola. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran tidak hanya membantu peserta didik mengenali jenis-jenis majas, tetapi juga mendorong mereka untuk menggunakan majas dalam membuat kalimat secara kreatif. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung terciptanya pembelajaran berkualitas, aktif, menyenangkan, dan bermakna sebagai bagian dari upaya mendukung pencapaian SDG 4.