Dari Banjir Jakarta Menjadi Karya: Murid Kelas VA SD Pedagogia Labschool UNY Eksplorasi Siklus Air melalui Diorama

Yogyakarta, 27 Agustus 2026 - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ronaa Almas Faatin, melaksanakan praktik pembelajaran IPAS di kelas VA SD Pedagogia Labschool UNY dengan membawakan materi siklus air. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama 4x35 menit dengan menerapkan model Project Based Learning (PJBL) kegiatan utama berupa pembuatan diorama siklus air secara berkelompok. Pembelajaran dilaksanakan dengan mengangkat permasalahan nyata berupa banjir di Jakarta sebagai konteks untuk membantu murid memahami keterkaitan antara siklus air dengan permasalahan lingkungan. Murid dibagi menjadi enam kelompok, dengan lima kelompok masing-masing beranggotakan empat murid dan satu kelompok beranggotakan tiga murid. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik, serta memiliki keterkaitan dengan SDG 13, Penanganan Perubahan Iklim, melalui peningkatan pemahaman dan kepedulian peserta didik terhadap permasalahan lingkungan.

Kegiatan diawali dengan apersepsi dan pertanyaan pemantik mengenai air dalam kehidupan sehari-hari. Murid diajak memahami bahwa air memiliki peran penting bagi manusia, hewan, dan tumbuhan serta memiliki proses perputaran yang berlangsung secara terus-menerus. Selanjutnya, dijelaskan konsep kandungan air di bumi dan tahapan siklus air, yaitu evaporasi, kondensasi, presipitasi, dan infiltrasi, dengan bantuan media pembelajaran berupa poster. Setelah memahami konsep dasar, murid dihadapkan pada studi kasus mengenai banjir di Jakarta. Murid diminta berdiskusi dan menghubungkan fenomena tersebut dengan proses air di lingkungan. Tahap berikutnya adalah pembuatan diorama. Murid bekerja sama menentukan pembagian tugas, menyiapkan bahan, menyusun berbagai komponen diorama, serta memberikan keterangan pada setiap tahapan siklus air. Setiap kelompok kemudian mengerjakan LKM sebagai penjabaran dari diorama siklus air yang sudah dibuat oleh murid. Selama proses berlangsung, mahasiswa memberikan bimbingan dan memantau keterlibatan setiap kelompok. Setelah proyek selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diorama di depan kelas. Murid menjelaskan tahapan siklus air yang ditampilkan serta menyampaikan hasil pemikiran kelompoknya terkait permasalahan yang diberikan.

Pelaksanaan proyek memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret bagi murid. Konsep siklus air yang sebelumnya bersifat abstrak dapat divisualisasikan melalui karya tiga dimensi sehingga murid memiliki kesempatan untuk belajar melalui proses mengamati, berdiskusi, membuat, dan mempresentasikan. Kegiatan kelompok juga memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan gotong royong, komunikasi, kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan tanggung jawab. Penggunaan kasus banjir jakarta membantu murid melihat bahwa pembelajaran IPAS tidak hanya berkaitan dengan hafalan konsep, tetapi juga dapat digunakan untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan. Dari sisi SDGs, kegiatan ini mendukung SDG 4 karena memberikan pengalaman pembelajaran yang aktif dan mengembangkan keterampilan murid, serta berkontribusi pada SDG 13 melalui penguatan kesadaran murid terhadap permasalahan lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan murid mampu memahami tahapan siklus air secara runtut, menjelaskan pentingnya air dalam kehidupan, serta mengembangkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan. Kegiatan pembuatan diorama juga diharapkan dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna, kreatif, menyenangkan, dan kontekstual bagi murid. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk menerapkan model pembelajaran berbasis proyek secara langsung sekaligus mengembangkan kemampuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran di sekolah. Harapan saya, pembelajaran berbasis proyek dengan mengangkat permasalahan nyata dapat terus dikembangkan agar murid semakin mampu menghubungkan pengetahuan yang dipelajari di kelas dengan kehidupan sehari-hari.