Eksplorasi Lima Stasiun Gaya: Implementasi Discovery Learning dalam Pembelajaran IPAS Berbasis SDGs pada Siswa Kelas IVA SD Negeri 1 Kadipiro

Bantul, 2 September 2026 – Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta, Nur Dwi Nugrahani, melaksanakan kegiatan pembelajaran IPAS di kelas IVA SD Negeri 1 Kadipiro, Bantul. Kegiatan yang mengangkat materi “Jenis-Jenis Gaya” ini dilaksanakan sebagai bentuk praktik kependidikan yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Pembelajaran dirancang agar murid tidak hanya menerima penjelasan mengenai gaya, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk menemukan konsep melalui pengalaman langsung.

Kegiatan pembelajaran menggunakan model Discovery Learning dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang mengintegrasikan pengalaman belajar mindful, meaningful, dan joyful. Murid diajak menjelajahi lima stasiun eksperimen, yaitu stasiun gaya otot, gravitasi, pegas, gesek, dan magnet. Pada stasiun gaya otot, murid mencoba menggeser meja dan meremas kertas. Di stasiun gravitasi, murid mengamati beberapa benda yang dijatuhkan. Selanjutnya, murid mencoba ketapel sederhana untuk mengamati gaya pegas, menjalankan mobil mainan pada lintasan halus dan kasar untuk menemukan pengaruh gaya gesek, serta menggunakan MagnetEdu Kit untuk mengidentifikasi benda yang dapat ditarik magnet. Dalam kelompok, murid melakukan percobaan, mencatat hasil pengamatan pada Lembar Kerja Siswa (LKS), mendiskusikan temuan, kemudian menyampaikan dugaan jenis gaya yang ditemukan. Ibu Mytalia, S.Pd. sebagai wali kelas IVA turut membersamai proses pembelajaran dengan mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Dalam prosesnya, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan pertanyaan pemantik, membimbing proses pengamatan, dan memberikan penguatan konsep setelah murid memperoleh pengalaman dari percobaan.

Kegiatan pada lima stasiun tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif dan kontekstual bagi murid. Berbagai benda yang digunakan dalam percobaan membantu murid menghubungkan konsep gaya dengan peristiwa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti mendorong benda, menjatuhkan benda, menggunakan ketapel, menjalankan kendaraan, dan memanfaatkan magnet. Kegiatan kelompok juga memberikan ruang bagi murid untuk bekerja sama, berdiskusi, mengemukakan pendapat, serta menghargai hasil pengamatan teman. Hal ini sejalan dengan SDG 4 yang menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas dan kesempatan belajar yang mendukung perkembangan pengetahuan serta keterampilan peserta didik.

Melalui kegiatan ini, pembelajaran IPAS diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi menjadi pengalaman belajar yang mendorong murid untuk aktif mengamati, mencoba, berpikir kritis, dan menemukan pengetahuan dari lingkungan di sekitarnya. Pengalaman pembelajaran berbasis eksperimen tersebut juga dapat menjadi salah satu bentuk praktik kependidikan yang mendukung terciptanya pembelajaran yang aktif, bermakna, dan menyenangkan di sekolah dasar.