You are here
DARI PIKET KELAS MENJADI PEMBELAJARAN BERMAKNA: MENGENAL KALIMAT MAJEMUK SETARA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DI KELAS IV SD MUHAMMADIYAH 2 PAKEM
Primary tabs

Sleman, 9 September 2026 — Siapa sangka kegiatan sederhana seperti piket kelas dapat membantu siswa memahami materi Bahasa Indonesia? Melalui pembelajaran yang kontekstual, Mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Miftah Aisyah Maharani dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, mengajak siswa kelas IV SD Muhammadiyah 2 Pakem mengenal kalimat majemuk setara dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang aktif dan bermakna. Dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL), siswa diajak mengamati gambar aktivitas piket, menjawab pertanyaan pemantik, serta menemukan penggunaan kata hubung dalam kalimat majemuk setara.
Setelah memahami permasalahan, siswa bekerja secara berkelompok untuk menyelesaikan tugas dengan mengidentifikasi kata hubung, menyusun kalimat, dan mengelompokkan kalimat majemuk setara berdasarkan hubungan maknanya, yaitu sejalan, berlawanan, dan sebab-akibat. Salah satu contoh yang digunakan adalah kalimat, “Andi dan Budi menata meja, Dika membersihkan kaca, Siti menyapu lantai, dan Rani menulis di papan tulis.” Melalui contoh tersebut, siswa diajak memahami penggunaan kata hubung sekaligus melihat hubungan antarkegiatan dalam sebuah kalimat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan presentasi hasil diskusi dan pembahasan bersama agar siswa dapat menjelaskan hasil pemikirannya di depan kelas. Selama proses pembelajaran, siswa tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan tanggapan, dan bekerja sama dengan teman.
Pembelajaran yang berangkat dari aktivitas piket kelas memberikan pengalaman yang berbeda dalam memahami kalimat majemuk setara. Materi yang dipelajari menjadi lebih dekat karena siswa dapat menghubungkannya dengan kegiatan yang mereka temui secara langsung di lingkungan kelas. Melalui kegiatan mengamati, berdiskusi, dan memecahkan permasalahan, siswa berlatih membedakan hubungan makna sejalan, berlawanan, dan sebab-akibat serta menentukan kata hubung yang sesuai. Kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi siswa untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan menjelaskan hasil pemikirannya. Dengan demikian, lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang sederhana untuk menciptakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih aktif dan bermakna.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang bermakna dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar siswa. Pemanfaatan lingkungan kelas sebagai konteks pembelajaran membantu siswa menghubungkan materi Bahasa Indonesia dengan pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan semangat SDGs ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Ke depan, model Problem Based Learning dapat terus dikembangkan melalui berbagai permasalahan dan aktivitas yang sesuai dengan kehidupan siswa pada materi pembelajaran lainnya. Dengan menghubungkan apa yang dipelajari dengan apa yang dialami, pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan dapat terus menghadirkan pengalaman belajar yang aktif, relevan, dan bermakna.
Copyright © 2026,