Dari Mengeja Menuju Membaca Lancar: Pendampingan Literasi Siswa Kelas IV di SD Negeri Pingit

Roy Erlangga Gaufany Riyansidik melaksanakan kegiatan pendampingan literasi bagi tiga siswa kelas IV selama menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SD Negeri Pingit. Kegiatan tersebut berupa tambahan belajar membaca dan menulis yang dilaksanakan sejak Rabu, 22 Juli 2026 hingga menjelang penarikan PK pada 25 September 2026. Pendampingan berlangsung di ruang kelas setelah kegiatan pembelajaran selesai. Kegiatan dilaksanakan setiap Senin sampai Rabu pukul 13.40–14.45 WIB dan setiap Kamis pukul 14.05–14.40 WIB. Program ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas melalui pemberian layanan belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kegiatan pendampingan dilaksanakan setelah ditemukan tiga siswa kelas IV yang belum mencapai tahap membaca lancar. Kemampuan membaca menjadi keterampilan dasar yang penting karena berpengaruh terhadap proses belajar siswa pada berbagai mata pelajaran. Roy mengawali kegiatan dengan melakukan asesmen menggunakan Early Grade Reading Assessment (EGRA) untuk mengetahui kemampuan awal dan kebutuhan belajar setiap siswa. Hasil asesmen menunjukkan kemampuan yang berbeda. NA telah mampu membaca cukup lancar, tetapi masih mengalami kesulitan ketika membaca kata yang lebih panjang. MN masih menggunakan cara mengeja ketika membaca kata dengan lebih dari dua suku kata. ML telah mampu membaca cukup lancar, tetapi masih mengalami kesulitan pada kata yang mengandung gabungan huruf seperti ng, ny, dan kh. ML juga masih membutuhkan pendampingan dalam keterampilan menulis.

Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam menentukan kegiatan belajar yang diberikan kepada setiap siswa. Roy menggunakan buku 60 Jam Lancar Membaca sebagai salah satu sumber latihan karena materi di dalamnya disusun secara bertahap. Siswa berlatih mulai dari membaca kata dengan dua dan tiga suku kata hingga kata yang memiliki pola lebih kompleks. Latihan membaca juga mencakup penggunaan huruf mati dan gabungan huruf yang masih sulit dikuasai siswa. Kegiatan membaca dipadukan dengan latihan menulis melalui pembuatan cerita sederhana. Siswa kemudian membaca kembali cerita yang telah mereka tulis. Strategi tersebut membantu siswa mengembangkan keterampilan membaca dan menulis dalam satu kegiatan. Beberapa pertemuan juga memanfaatkan aplikasi latihan membaca pada perangkat digital agar kegiatan belajar lebih bervariasi.

Ketiga siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama mengikuti kegiatan. Mereka sering menanyakan jadwal pendampingan berikutnya dan menunjukkan keinginan untuk mendapat giliran membaca lebih dahulu. Ungkapan seperti “Aku dulu yang baca” dan pertanyaan mengenai jadwal belajar berikutnya menjadi bagian dari respons yang muncul selama kegiatan berlangsung. Perkembangan kemampuan membaca juga mulai terlihat dari tahapan latihan yang berhasil diselesaikan siswa. Siswa menunjukkan peningkatan kemampuan membaca secara bertahap serta mulai memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang lebih baik saat membaca.

Kegiatan pendampingan literasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam mendukung pencapaian SDG 4 melalui penyediaan kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik. Program tersebut diharapkan dapat membantu ketiga siswa mencapai tahap membaca lancar dan berkembang menuju kemampuan membaca pemahaman. Pendampingan serupa juga dapat diterapkan secara berkelanjutan sebagai upaya untuk membantu siswa yang masih membutuhkan layanan tambahan dalam mengembangkan kemampuan literasi dasar.