Ketika Hujan Hadir dalam Toples: Menyingkap Siklus Air melalui Pembelajaran IPAS Kelas V di SD Negeri Condongcatur

Sleman, 10 September 2026 — Apa yang terjadi ketika hujan tidak turun dari langit, tetapi hadir di dalam sebuah toples? Pertanyaan itu terjawab melalui eksperimen "Hujan dalam Toples" pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) materi Air Sumber Kehidupan di kelas V B SD Negeri Condongcatur. Melalui percobaan sederhana ini, siswa diajak mengamati sendiri perubahan yang terjadi dan menghubungkannya dengan proses siklus air yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang berlangsung pada 25 Juli-23 September 2026. Pada tahap proporsi 100%, mahasiswa diberi ruang untuk menerapkan rancangan pembelajaran sekaligus merasakan langsung tantangan mengelola proses belajar di sekolah, dengan pelaksanaan yang mengikuti timeline dari universitas dan menyesuaikan ketentuan yang berlaku di SD Negeri Condongcatur.

Pembelajaran IPAS berlangsung pukul 09.40-10.50 WIB selama 2 JP (2 × 35 menit) bersama 20 siswa kelas V B. Kegiatan dilaksanakan oleh Yevita Rizkiana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, di bawah bimbingan guru pamong Ibu Sriyani Wulandari, S.Pd. dan wali kelas Ibu Ana Rahayu, S.Pd. Pengalaman belajar ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Bermutu, khususnya melalui pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan memberi ruang bagi siswa untuk terlibat secara langsung.

Kelancaran pembelajaran ini tidak lepas dari persiapan yang disusun secara cermat sebelumnya, mulai dari modul ajar, alat peraga, video, PowerPoint interaktif, LKPD, alat dan bahan eksperimen, kuis digital, soal evaluasi, hingga gift reward. Berbagai perangkat tersebut dirancang saling melengkapi, sehingga setiap tahap pembelajaran dapat berjalan runtut dan terhubung satu sama lain.

Siklus air umumnya dikenalkan melalui gambar, ilustrasi, dan penjelasan bertahap. Pembelajaran kali ini menempuh jalan yang berbeda: siswa diajak melihat sendiri keterkaitan antarproses melalui pengamatan dan percobaan langsung. Model Problem Based Learning (PBL) dipadukan dengan pendekatan Deep Learning untuk mendorong siswa memahami permasalahan, mengamati fenomena, mencoba, mengolah informasi, dan menyampaikan hasil pemikirannya. PBL dipilih karena persoalan nyata dapat menjadi pemantik bagi siswa untuk menyusun penjelasan berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan mereka sendiri. Pendekatan Deep Learning kemudian memperdalam proses tersebut melalui pemahaman yang lebih mendalam, refleksi, dan komunikasi. Perpaduan keduanya membentuk rangkaian belajar yang tidak berhenti pada penerimaan informasi, melainkan memberi ruang bagi siswa untuk membangun pengetahuannya secara aktif.

Pembelajaran dibuka dengan pembentukan kelompok-kelompok kecil yang bekerja sama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Sebagai pengantar, video animasi mengenai siklus air ditayangkan; siswa mengamati tahapan yang muncul di dalamnya, lalu mencatat informasi penting pada LKPD. Tayangan ini berfungsi sebagai jembatan awal, sebelum siswa memperoleh penjelasan yang lebih terarah mengenai konsep yang tengah dipelajari.

Hasil pengamatan dadi video tersebut kemudian diperkuat melalui pemaparan PowerPoint. Pada tahap ini, materi belum diberikan secara mendalam, melainkan berfungsi memperjelas informasi dasar yang telah ditemukan siswa sekaligus mengarahkan perhatian mereka pada tahapan penting dalam siklus air, bekal yang diperlukan sebelum siswa berhadapan langsung dengan fenomena yang akan diamati pada kegiatan berikutnya.

Pemahaman siswa diperdalam melalui studi kasus mengenai siklus air yang disertai demonstrasi alat peraga. Perwakilan tiap kelompok maju secara bergantian untuk memperagakan proses siklus air, sedangkan siswa lain mengamati dan melengkapi bagian LKPD berdasarkan hasil pengamatan. Pada tahap ini, konsep yang sebelumnya diperoleh melalui tayangan video menjadi lebih konkret karena siswa dapat melihat tahapan siklus air melalui demonstrasi secara langsung. Penguatan konsep kemudian diberikan melalui PowerPoint untuk menghubungkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan eksperimen yang akan dilakukan.

Suasana kelas berubah ketika eksperimen “Hujan dalam Toples” berlangsung. Perhatian siswa beralih pada percobaan yang dilaksanakan di depan kelas agar seluruh kelompok dapat mengamati perubahan yang terjadi secara bersama-sama. Percobaan menggunakan toples atau gelas bening, air hangat, cup, es batu, dan spidol. Setiap kelompok mengirimkan satu perwakilan secara bergantian untuk mengikuti setiap tahapan sesuai arahan, sedangkan anggota lainnya berperan sebagai pengamat. Pembagian peran tersebut memberi kesempatan bagi seluruh siswa untuk terlibat melalui praktik maupun pengamatan.

Begitu seluruh tahapan selesai dilakukan, percobaan dibiarkan berlangsung selama lima menit. Jeda tersebut tidak sekadar menjadi masa tunggu, melainkan dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Selama waktu tersebut, penjelasan yang lebih mendalam mengenai siklus air disampaikan melalui PowerPoint interaktif. Siswa diajak menelusuri hubungan antara evaporasi, kondensasi, presipitasi, dan pergerakan air melalui pertanyaan, gambar, serta tampilan interaktif, sekaligus menghubungkan konsep yang telah diperoleh dengan perubahan yang perlahan tampak.

Setelah lima menit berlalu, siswa kembali mengamati perubahan yang terjadi pada toples, membandingkan kondisi sebelum dan sesudah percobaan, lalu mencatat temuannya pada LKPD. Temuan ini menjadi dasar bagi siswa untuk menjelaskan hubungan antara hasil eksperimen dan proses siklus air secara lebih runtut. Tahap ini sekaligus memberi kesempatan bagi siswa untuk menyampaikan dugaan, membandingkan hasil, dan memperbaiki pemahamannya berdasarkan bukti yang mereka temukan sendiri.

Hasil LKPD kemudian disampaikan melalui perwakilan setiap kelompok. Presentasi menjadi ruang bagi siswa untuk menjelaskan hasil pengamatan, proses yang terjadi, serta hubungan eksperimen dengan siklus air. Kelompok lain menyimak pemaparan yang disampaikan. Penguatan diberikan setelah seluruh kelompok menyelesaikan presentasi sehingga berbagai hasil pengamatan dapat dipertemukan melalui pembahasan bersama.

Kuis digital digunakan sebagai aktivitas bersama untuk meninjau kembali materi. Siswa menjawab pertanyaan berdasarkan konsep yang telah dipelajari, kemudian mengerjakan soal evaluasi secara individu. Hasil pekerjaan diperiksa untuk mengetahui pemahaman setiap siswa sekaligus melihat ketercapaian tujuan pembelajaran.

Antusiasme siswa tampak sepanjang rangkaian pembelajaran. Video animasi menarik perhatian sejak awal, demonstrasi menghadirkan gambaran yang lebih konkret, sedangkan eksperimen memberi kesempatan kepada siswa untuk menyaksikan perubahan secara langsung. Diskusi kelompok, pencatatan hasil pengamatan, dan presentasi membuat proses belajar berkembang melalui pertukaran gagasan.

Rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa siswa tidak sekadar menerima konsep siklus air melalui penjelasan satu arah, tetapi juga belajar menghubungkan berbagai sumber informasi yang mereka temui sepanjang pembelajaran. Pengalaman belajar tersebut turut mengembangkan dimensi Profil Lulusan, khususnya penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Penalaran kritis berkembang ketika siswa menghubungkan perubahan hasil percobaan dengan konsep siklus air. Kreativitas terlihat ketika siswa menyusun penjelasan berdasarkan hasil pengamatan. Kolaborasi tumbuh melalui pembagian peran dan kerja kelompok, sedangkan komunikasi terasah melalui diskusi serta presentasi hasil LKPD.

Keterhubungan pembelajaran ini dengan SDGs Tujuan 4 tampak jelas dari proses belajar yang memberi ruang bagi siswa untuk mengamati, mengeksplorasi, berdiskusi, dan membangun pemahaman berdasarkan pengalaman langsung. Pendidikan bermutu, dalam praktiknya, tidak semata berorientasi pada penguasaan materi, melainkan juga menghadirkan proses yang mendorong siswa aktif berpikir, berkomunikasi, dan mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan di sekitarnya.

Materi Air Sumber Kehidupan sendiri memiliki kedekatan yang kuat dengan peristiwa sehari-hari. Pemahaman mengenai siklus air membantu siswa mengenali proses alam yang berlangsung di lingkungan sekitar, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya air bagi keberlangsungan kehidupan. Sebagai tindak lanjut, siswa diberi tugas mengamati peristiwa yang berkaitan dengan siklus air dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pengetahuan yang mereka peroleh tidak berhenti di ruang kelas, melainkan terus ditemukan kembali melalui fenomena di lingkungan sekitar.

Praktik Kependidikan melalui pembelajaran “Hujan dalam Toples” menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus mengembangkan kompetensi sebagai calon guru. Penyusunan perangkat ajar, pemilihan model pembelajaran, pengelolaan kelas, pelaksanaan demonstrasi dan eksperimen, penilaian, hingga tindak lanjut menjadi bagian dari pengalaman yang memperkuat kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Sebuah toples sederhana akhirnya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas daripada sekadar memahami proses hujan. Siswa mengamati, mencoba, mencatat, berdiskusi, membandingkan hasil, dan menyampaikan pemikirannya. “Hujan dalam Toples” memperlihatkan bahwa pembelajaran bermutu dapat tumbuh melalui pengalaman yang sederhana ketika ruang kelas memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, menemukan, menalar, dan memahami dunia di sekitarnya.