AKTIFKAN NALAR KRITIS SISWA, MAHASISWA PK TERAPKAN ROLE-PLAY DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SD NEGERI BINTARAN

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Yogyakarta, melaksanakan kegiatan pembelajaran inovatif berbasis Deep Learning pada mata pelajaran IPAS di SD Negeri Bintaran, Cikal, Srimulyo, Kec. Piyungan, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan dilaksanakan pada pertengahan semester ganjil dan menyasar peserta didik kelas VI. Pembelajaran dirancang dengan memperhatikan keberagaman cara belajar siswa melalui aktivitas visual, auditori, dan kinestetik. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang aktif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik.

Kegiatan bertujuan membantu siswa memahami materi sejarah mengenai imperialisme dan kolonialisme sekaligus menumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kepahlawanan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memadukan model Problem Based Learning dengan metode bermain peran (role-play). Siswa terlibat dalam diskusi, pemecahan masalah, dan peragaan berbagai situasi sejarah. Beberapa siswa memerankan kondisi rakyat yang mengalami penderitaan akibat sistem tanam paksa, sedangkan siswa lainnya memerankan tokoh yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial dalam konteks Politik Etis. Siswa juga melakukan simulasi mengenai praktik monopoli perdagangan pada masa VOC. Kegiatan dilaksanakan dengan bimbingan mahasiswa pelaksana dan guru pamong sehingga proses pembelajaran berlangsung secara interaktif dan menyenangkan.

Pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa metode role-play dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara langsung dalam memahami materi. Siswa dapat berdiskusi, bekerja sama, menyampaikan pendapat, serta menghayati peran yang dimainkan. Melalui pengalaman tersebut, siswa tidak hanya mempelajari fakta sejarah, tetapi juga diajak merefleksikan nilai-nilai seperti rela berkorban, cinta tanah air, kerja sama, dan pantang menyerah. Selain itu, penerapan diferensiasi produk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahamannya melalui karya yang sesuai dengan kreativitas mereka, seperti naskah drama atau monolog singkat tentang tokoh pahlawan. Kegiatan ini berkontribusi terhadap SDGs Tujuan 4 dengan mendukung pembelajaran yang partisipatif dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi serta kreativitasnya.

Sebagai tindak lanjut, penerapan metode role-play dan pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di SD Negeri Bintaran. Kegiatan selanjutnya dapat diarahkan pada eksplorasi sejarah lokal agar siswa lebih mengenal tokoh dan peristiwa sejarah di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, pembelajaran sejarah diharapkan tidak hanya membantu siswa memahami peristiwa masa lalu, tetapi juga mendorong mereka mengambil nilai-nilai positif dari sejarah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.