You are here
Misi Detektif Kantin Sekolah guna Memahami Konsep Faktor dan Kelipatan di Kelas IV SD N Depok 2: Aksi Mahasiswa Praktik Kependidikan Mewujudkan SDGs Pendidikan Berkualitas
Primary tabs

Pendidikan dasar merupakan fondasi utama dalam membina generasi yang cerdas dan bernalar kritis. Dalam upaya mendukung pencapaian Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), khususnya Tujuan ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), Pada hari Jumat, 11 September 2026, seorang mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta bernama Rosita meluncurkan terobosan pembelajaran matematika yang kontekstual dan menyenangkan di kelas IV SD Negeri Depok 2. Melalui modul ajar bertajuk "Faktor dan Kelipatan Bilangan", Rosita membuktikan bahwa konsep matematika yang sering dianggap abstrak dan menakutkan dapat diubah menjadi pengalaman belajar yang interaktif, inklusif, serta berdampak nyata bagi perkembangan peserta didik.
Praktik mengajar yang dirancang oleh Rosita Aryani ini menerapkan pendekatan Deep Learning dengan model Problem Based Learning (PBL) untuk menciptakan suasana belajar yang bermakna dan berpusat pada siswa. Dalam mendukung kesetaraan akses belajar, ia mengakomodasi keberagaman kesiapan kognitif murid yang terbagi menjadi kelompok mahir, cakap, hingga yang membutuhkan pendampingan khusus. Penggunaan media konkret manipulatif seperti kancing baju, sedotan, dan wadah transparan digunakan untuk membantu siswa memahami konsep pengelompokan faktor dan kelipatan. Pendekatan inklusif ini memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam proses pembelajaran, yang mana sangat sejalan dengan prinsip utama SDGs untuk memberikan pendidikan yang adil dan merata bagi semua.
Suasana kelas menjadi hidup ketika matematika dihubungkan langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa melalui skenario interaktif bertema "Misi Detektif Kantin Sekolah". Pembelajaran diawali dengan kegiatan reflektif dan pemantik nalar kritis. Pada sesi inti, siswa diajak memecahkan masalah nyata, seperti menghitung kemungkinan banyaknya kantong plastik yang dibutuhkan untuk membagi 20 risol secara merata tanpa sisa guna memahami konsep faktor. Sementara itu, untuk memahami konsep kelipatan, siswa menganalisis pola jadwal kedatangan pasokan takoyaki yang datang setiap 3 hari sekali dalam satu bulan menggunakan bantuan papan angka dan teknik penjumlahan berulang.
Tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis, proses pembelajaran ini juga mendukung pencapaian SDGs Tujuan ke-10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui penanaman nilai-nilai gotong royong dan kesetaraan. Setiap kelompok heterogen dibentuk dengan pembagian peran yang adil, seperti ketua tim, detektif faktor, detektif kelipatan, notulis hitung, hingga juru bicara. Struktur ini melatih siswa untuk saling menyimak, menghargai pendapat teman tanpa membeda-bedakan, serta mengasah keterampilan komunikasi dan penalaran kritis saat mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
Sebagai wujud implementasi SDGs Tujuan ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, keberhasilan pembelajaran ini ditopang oleh kolaborasi yang kuat antara pihak sekolah dan orang tua di rumah. Rosita melibatkan orang tua sebagai mitra pendamping numerasi melalui lembar kegiatan "Tantangan Detektif Angka di Rumah". Melalui aktivitas ini, siswa diajak untuk memperagakan dan menjelaskan kembali alur pemikirannya kepada orang tua saat membagi makanan atau menentukan pola jadwal harian. Langkah inovatif yang dilakukan oleh Rosita di SD Negeri Depok 2 ini menjadi cermin nyata bahwa transformasi pendidikan berkualitas dapat dimulai dari ruang kelas sekolah dasar, mengubah matematika menjadi sarana pembentukan karakter dan pola pikir kritis demi masa depan yang berkelanjutan.
Copyright © 2026,