You are here
PIRING MBG: Dari Lauk Jadi Soal Cerita, Murid SD Negeri Margoyasan Belajar Jadi Jago Matematika
Primary tabs

Bagaimana jika soal cerita matematika tidak hanya dibaca dan dihitung, tetapi juga dapat “disajikan” di atas piring? Hal tersebut dilakukan oleh Dian Safira, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebagai bagian dari Praktik Kependidikan (PK) di SD Negeri Margoyasan. Kegiatan pembelajaran penjumlahan dan pengurangan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 4 September 2026, bersama 21 murid kelas II.
Pembelajaran matematika menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Alih-alih langsung mengerjakan soal hitungan, murid terlebih dahulu dihadapkan pada permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui konteks Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui LKPD, murid menemukan gambar piring atau ompreng MBG yang masih kosong beserta berbagai gambar lauk-pauk. Setiap lauk memiliki soal cerita yang berbeda. Murid kemudian membaca dan memahami soal, menentukan operasi yang tepat, serta menggunakan gambar lauk untuk membantu menemukan jawabannya. Dengan cara tersebut, soal cerita yang semula hanya berupa kalimat menjadi permasalahan yang dapat mereka lihat dan pahami secara konkret.
Proses pembelajaran berlangsung sebagai kegiatan pemecahan masalah. Murid mengerjakan LKPD dengan bimbingan guru, terutama ketika mengalami kesulitan memahami informasi dalam soal atau menentukan apakah harus menggunakan penjumlahan atau pengurangan. Setelah menyelesaikan tugas, lima murid maju ke depan kelas. Masing-masing membacakan satu soal sesuai lauk yang diperoleh, kemudian menyampaikan hasil penyelesaiannya kepada teman-teman. Melalui kegiatan tersebut, murid tidak hanya mencari jawaban akhir, tetapi juga belajar memahami masalah, menentukan strategi penyelesaian, menyampaikan hasil, dan melihat kembali proses yang telah dilakukan.
Agar pembelajaran terasa lebih dekat dan menyenangkan, kegiatan juga dikemas dengan suasana mindful, joyful, dan meaningful. Pembelajaran diawali dengan persiapan diri agar murid siap dan fokus, kemudian dilanjutkan dengan lagu dan ice breaking. Penggunaan konteks MBG membantu murid menghubungkan materi penjumlahan dan pengurangan dengan pengalaman sehari-hari. Sementara itu, gambar lauk dan piring MBG membantu murid yang masih mengalami kesulitan memahami soal cerita karena mereka dapat memvisualisasikan permasalahan sebelum menentukan penyelesaiannya.
Pembelajaran ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan mendorong kemampuan bernalar serta memecahkan masalah. Bagi Dian Safira, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid sekolah dasar.
Dari piring MBG, matematika menjadi lebih dekat dengan kehidupan murid. Berawal dari membaca soal cerita, menempelkan lauk, menghitung, hingga berani menyampaikan jawaban di depan kelas, murid SD Negeri Margoyasan belajar bahwa menjadi jago matematika tidak selalu dimulai dari angka, tetapi juga dari memahami masalah dan menemukan cara untuk menyelesaikannya.
Penulis : Dian Safira
Copyright © 2026,