Belajar Tanda Baca Lewat Papan Pintar dan Sticky Note Berwarna, Mahasiswa PK UNY Ajak Murid Kelas II SD Negeri Guwo Aktif dan Percaya Diri

Jumat, 4 September 2026, menjadi salah satu momen istimewa dalam rangkaian Praktik Kependidikan (PK) yang dijalani Nazwa Radita Putri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pada tahap ini, Nazwa mengajar secara penuh atau 100% tanpa pendampingan guru kelas, menandai puncak dari rangkaian latihan mengajar bertahap yang telah dilaluinya sejak awal PK. Kesempatan tersebut digunakan untuk mengajar 18 murid kelas II SD Negeri Guwo pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi tanda baca, sebagai bagian dari kontribusi UNY dalam mendukung SDGs 4 “Pendidikan Berkualitas” melalui praktik pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada murid.

Menyadari bahwa murid kelas II lebih mudah memahami aturan bahasa yang bersifat abstrak apabila dikemas secara konkret dan menyenangkan, Nazwa merancang media pembelajaran unik berupa papan tanda baca berbentuk bulat yang terbuat dari stereofoam yang dilengkapi gagang agar mudah dipegang dan menarik dilihat. Pada media tersebut terdapat empat gambar berwarna yang berisi tanda baca titik, koma, tanda tanya, dan tanda seru. Media ini digunakan Nazwa saat menjelaskan materi dengan menunjukkan secara langsung bentuk serta fungsi masing-masing tanda baca kepada murid. Pembelajaran diawali dengan mengamati dua kalimat yang tampak serupa namun memiliki makna berbeda karena tanda bacanya, sebelum murid diajak mengenali satu per satu tanda baca melalui media tersebut. Dari sinilah rasa ingin tahu murid mulai terbangun, apalagi ketika mereka mengetahui akan segera bermain sambil belajar. Kegiatan inti berlangsung dalam bentuk permainan kelompok kecil. Murid dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian setiap kelompok memperoleh bagian soal berupa kalimat yang ditampilkan tanpa tanda baca untuk didiskusikan bersama. Setelah menentukan tanda baca yang  

paling tepat, perwakilan dari setiap kelompok maju ke depan kelas untuk mengambil sticky note tanda baca yang sesuai, kemudian menempelkannya pada bagian kalimat yang telah ditampilkan di papan tulis. Setelah menempelkan jawaban, perwakilan kelompok membacakan kalimat dengan intonasi yang sesuai dan menjelaskan alasan pemilihan tanda baca tersebut. Permainan ini dilakukan beberapa kali dengan soal dan perwakilan kelompok yang berbeda, sehingga seluruh murid memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi.

Yang membuat pengalaman mengajar kali ini terasa berkesan, murid-murid kelas II mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sangat tertib. Mereka duduk rapi di tempat masing-masing, fokus mengikuti instruksi, dan tidak berlarian ke sana kemari sepanjang pembelajaran berlangsung. Ketika diberi pertanyaan, hampir seluruh murid antusias menjawab sesuai kemampuan mereka, hanya sebagian kecil yang masih terlihat pasif. Sikap positif ini turut 

menciptakan suasana belajar yang kondusif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan ketertiban mereka mengikuti pembelajaran, Nazwa memberikan apresiasi sederhana kepada seluruh murid di akhir kegiatan. Hal tersebut menjadi bentuk ucapan terima kasih atas kerja sama, keberanian, dan antusiasme murid selama mengikuti proses pembelajaran.

Pengalaman mengajar mandiri ini menjadi bekal berharga bagi Nazwa dalam mengasah kompetensi pedagogisnya secara utuh, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan murid mampu menumbuhkan partisipasi aktif meski pada murid usia kelas rendah. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki komitmen kuat dalam bidang pendidikan dan pengembangan calon pendidik, Universitas Negeri Yogyakarta terus berupaya berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui berbagai praktik pembelajaran inovatif di sekolah mitra. Ke depan, pendekatan pembelajaran yang konkret, aktif, dan menyenangkan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan untuk membangun pemahaman berbahasa yang kokoh sejak usia dini.