You are here
Dosen Departemen PSD Safitri Yosita Ratri, Ph.D. Jadi Narasumber Seminar Pendidikan Universitas Maluku Utara
Primary tabs

Dosen Departemen Pendidikan Sekolah Dasar (PSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Safitri Yosita Ratri, Ph.D., menjadi narasumber dalam seminar pendidikan bertema “Mempersiapkan Guru SD Masa Depan: Integrasi Deep Learning dan Media Pembelajaran Inovatif” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom oleh Universitas Maluku Utara.
Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat wawasan pendidik dan calon guru sekolah dasar dalam menghadapi perubahan karakteristik peserta didik, perkembangan teknologi digital, serta tuntutan kompetensi abad ke-21. Seminar juga membahas pentingnya transformasi pembelajaran agar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi mampu membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, dan karakter peserta didik.
Dalam pemaparannya, Safitri Yosita Ratri, Ph.D. membahas konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan pendidikan Indonesia. Pembahasan diawali dengan kondisi kemampuan literasi dan numerasi peserta didik yang masih menghadapi tantangan, termasuk capaian Indonesia dalam PISA 2022, yang menunjukkan perlunya penguatan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Pembelajaran Mendalam dipaparkan sebagai pendekatan pembelajaran yang memuliakan peserta didik dengan menciptakan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga dilakukan secara holistik melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
Salah satu bagian penting dalam materi adalah kerangka “8334”, yaitu 8 Dimensi Profil Lulusan, 3 Prinsip Pembelajaran, 3 Pengalaman Belajar, dan 4 Kerangka Pembelajaran. Delapan dimensi profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Sementara itu, tiga prinsip pembelajaran menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Peserta juga diajak memahami tiga pengalaman utama dalam Pembelajaran Mendalam, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Keempat kerangka pembelajaran yang mendukungnya meliputi praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi digital. Materi tersebut juga dikaitkan dengan Taksonomi SOLO dan Taksonomi Bloom untuk memperkuat pemahaman mengenai perkembangan kemampuan berpikir peserta didik.
Pada bagian berikutnya, Safitri menyoroti digitalisasi pembelajaran yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan generasi digital, termasuk Generasi Z dan Generasi Alpha. Digitalisasi dipandang sebagai “pisau bermata dua”. Di satu sisi, teknologi memberikan peluang berupa akses terhadap sumber belajar yang luas, pengalaman belajar yang lebih interaktif, serta ruang untuk mengembangkan kreativitas. Namun, di sisi lain, terdapat berbagai tantangan seperti kecanduan gawai, paparan konten yang tidak sesuai usia, serta risiko cyberbullying. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan perlu disertai literasi digital, pendampingan, dan perlindungan peserta didik di ruang digital.
Berbagai contoh pemanfaatan teknologi juga diperkenalkan dalam seminar. Teknologi dapat digunakan untuk menyajikan konten autentik, misalnya melalui GeoGebra; mendorong refleksi dengan Padlet, Kahoot, dan Wayground; memberikan ruang kreativitas melalui Canva dan Scratch; memberikan umpan balik dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial seperti ChatGPT, Gemini, dan DeepSeek; serta membangun kolaborasi melalui Discord dan Google Workspace.
Teknologi juga dapat digunakan untuk menjembatani konsep pembelajaran dengan pengalaman nyata melalui pemanfaatan perangkat seperti printer 3D, drone, dan robot. Dengan demikian, media pembelajaran inovatif tidak sekadar digunakan untuk membuat pembelajaran menjadi menarik, tetapi harus mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih autentik, kontekstual, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik.
Melalui seminar tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa digitalisasi bukanlah tujuan akhir pembelajaran, melainkan jembatan menuju terwujudnya Pembelajaran Mendalam. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran, bukan menggantikan proses pedagogis.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi pembelajaran tetap sangat bergantung pada peran guru sebagai arsitek pembelajaran. Guru masa depan dituntut tidak hanya mampu menguasai teknologi, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan pedagogis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian terhadap perkembangan peserta didik.
Seminar ini sekaligus menegaskan pentingnya mempersiapkan guru sekolah dasar masa depan yang adaptif terhadap teknologi, kuat dalam pedagogi, berintegritas, dan mampu merancang pengalaman belajar yang mendalam, sehingga pendidikan sekolah dasar dapat berkontribusi dalam mempersiapkan generasi yang kompeten menghadapi Bonus Demografi 2035 dan mewujudkan Visi Indonesia 2045.
Copyright © 2026,