You are here
Mahasiswa UNY Perkuat Resiliensi Anak Pemulung melalui Program I'M STRONG Berbasis Social Emotional Learning
Primary tabs
Submitted by adm1n on Thu, 2026-07-16 04:15


Penutupan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan pada tahun 2024 tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi keluarga pemulung, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental anak-anak mereka. Pekerjaan orang tua membuat sebagian anak merasa minder, kurang percaya diri, dan kesulitan menghadapi tekanan sosial. Hasil asesmen awal Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa sebagian besar anak mitra di Rumah Pengolahan Sampah Mardiko memiliki tingkat resiliensi yang masih rendah.
Berangkat dari kondisi tersebut, lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang tergabung dalam Tim PKM-PM melaksanakan program I'M STRONG yang berfokus pada peningkatan resiliensi anak pemulung berbasis Social Emotional Learning (SEL). Tim tersebut terdiri atas Taqiya Ahsanu Wibowo (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2024), Pinka Windu Ardiningrum (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2024), Almas Jannati Wibowo (Program Studi Pendidikan Luar Sekolah Angkatan 2025), Alvin Muhammad Iqbal Sa'idul Anwary (Program Studi Psikologi Angkatan 2024), dan Almaas Mufiidah (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2024). Salah satu tahapan dalam program ini adalah Knowing My Self, yang berfokus pada pengembangan self-awareness sebagai fondasi untuk memperkuat resiliensi anak.
Tahap Knowing My Self terdiri atas tiga subprogram, yaitu I Am Amazing, My Secret Power, dan Inside Out. Ketiga kegiatan tersebut dirancang untuk membantu anak mengenali emosi, memahami potensi diri, serta menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Melalui subprogram I Am Amazing, anak-anak diajak mengeksplorasi berbagai emosi menggunakan media Emotion Wheel. Mereka juga bermain Resilience Card pada aspek I Have untuk mengenali dukungan yang dimiliki dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar. Kegiatan ini diperkuat dengan pemutaran film pendek bertema karakter serta refleksi bersama agar anak memahami bahwa mereka tidak menghadapi kesulitan seorang diri.
Selanjutnya, pada subprogram My Secret Power, anak-anak menuliskan kelebihan dan potensi diri pada media Gratitude Tree. Aktivitas ini bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat aspek I Am dalam resiliensi. Melalui permainan Resilience Card dan video edukasi, anak didorong untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki kekuatan yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi tantangan.
Tahap Inside Out menjadi ruang bagi anak untuk menceritakan mimpi dan cita-cita mereka. Pada sesi ini, anak belajar memperkuat aspek I Can melalui permainan Resilience Card, diskusi, dan tayangan edukatif yang mendorong keberanian untuk tampil serta keyakinan untuk terus berusaha meraih tujuan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, anak-anak mulai menunjukkan keberanian untuk mengungkapkan pKegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan kompetensi sosial dan emosional dapat membantu anak bangkit dari stigma, meningkatkan kepercayaan diri, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.endapat, mengenali potensi yang dimiliki, dan memandang dirinya secara lebih positif. Tahap Knowing My Self menjadi langkah awal dalam membangun resiliensi anak.
Copyright © 2026,