Petualangan Sains di Kelas IV A: Menyelidiki Gaya Gesek melalui Learning Cycle 7E

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ahmad Dani Lazuardi dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), melaksanakan praktik mengajar di SD Negeri Panembahan pada Rabu, 16 September 2026. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan di kelas IV A dengan materi IPAS tentang gaya gesek. Pembelajaran menggunakan model Learning Cycle 7E yang terdiri atas tahapan Elicit, Engage, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate, dan Extend. Model pembelajaran ini diterapkan melalui kegiatan pengamatan, percobaan sederhana, diskusi, presentasi, dan evaluasi untuk membantu murid membangun pemahaman mengenai gaya gesek berdasarkan pengalaman langsung. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi Universitas Negeri Yogyakarta dalam mendukung SDGs 4 “Pendidikan Berkualitas” melalui penerapan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berpusat pada murid.

Pada tahap Elicit (Mendatangkan Pengetahuan Awal), murid diajak mengingat pengalaman sehari-hari yang berkaitan dengan gaya gesek, seperti ketika berjalan atau bersepeda menuju sekolah. Murid menjawab pertanyaan dari guru dan menyimak pengalaman yang disampaikan oleh teman sekelas. Selanjutnya, pada tahap Engage (Mengajak dan Menarik Perhatian), murid mengamati demonstrasi guru yang menggerakkan benda pada permukaan berbeda. Murid kemudian menyampaikan pendapat awal mengenai penyebab benda dapat bergerak lebih mudah atau lebih sulit pada permukaan yang berbeda. Kegiatan tersebut digunakan untuk membangun rasa ingin tahu murid sebelum melakukan penyelidikan.

Tahap Explore (Eksplorasi) menjadi bagian utama dalam kegiatan pembelajaran. Murid berkumpul dalam kelompok dan menerima alat serta bahan percobaan yang telah disiapkan. Dengan menggunakan LKPD “Petualangan Sains: Menyelidiki Gaya Gesek”, murid melakukan penyelidikan melalui tiga pos. Pada Pos 1, murid mendorong kaleng berisi botol air dengan berat total 1,2 kg dengan bagian bawah kaleng yang polos di atas kain. Pada Pos 2, murid menggunakan kaleng dengan isi yang sama, tetapi bagian bawahnya ditempeli amplas dan didorong di atas kardus. Pada Pos 3, murid mendorong mobil mainan yang telah diikat dengan dua botol air dengan berat total sama atau mendekati 1,2 kg. Murid mengamati dan membandingkan kemudahan gerak benda pada ketiga kondisi tersebut, kemudian mencatat hasil pengamatan dan menjawab pertanyaan pada LKPD. Melalui kegiatan ini, murid memperoleh pengalaman langsung untuk menemukan hubungan antara permukaan, roda, dan gaya gesek.

Pada tahap Explain (Penjelasan), hasil percobaan setiap kelompok ditukarkan dengan kelompok lain. Murid membaca hasil pengamatan kelompok lain, kemudian memberikan tanggapan atau menambahkan informasi berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan. Setelah itu, guru memberikan penjelasan dan penguatan mengenai konsep gaya gesek berdasarkan hasil penyelidikan murid. Dengan demikian, konsep yang dipelajari tidak hanya diperoleh melalui penjelasan guru, tetapi juga dibangun dari hasil pengamatan dan pengalaman murid selama percobaan. Pada tahap selanjutnya yakni Elaborate (Elaborasi/Penerapan) dilakukan dengan mengajak murid mengamati benda-benda yang terdapat di lingkungan kelas. Murid mengidentifikasi benda atau aktivitas yang memanfaatkan gaya gesek, kemudian memaparkan alasan penggunaan gaya gesek pada benda tersebut. Kegiatan ini membantu murid menghubungkan konsep yang telah dipelajari melalui percobaan dengan kehidupan sehari-hari. Murid juga memahami bahwa gaya gesek dapat dimanfaatkan, dikurangi, maupun diperbesar sesuai dengan kebutuhan.

Pada tahap Evaluate (Evaluasi), murid mengerjakan soal evaluasi menggunakan quiziz kertas secara mandiri untuk mengetahui pemahaman mereka mengenai konsep gaya gesek dan pengaruhnya terhadap gerak benda. Selanjutnya, pada tahap Extend (Memperluas Pemahaman), murid mendapatkan tugas pengamatan mandiri untuk menemukan contoh pemanfaatan gaya gesek di lingkungan rumah. Murid juga berdiskusi mengenai apakah gaya gesek selalu menyebabkan benda atau mesin cepat rusak serta alternatif yang dapat dilakukan untuk memperlambat kerusakan tersebut. Tahap ini memberikan kesempatan kepada murid untuk memperluas pemahaman dan mengaitkan konsep gaya gesek dengan situasi di luar kelas.

Penerapan Learning Cycle 7E dalam pembelajaran gaya gesek memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar melalui rangkaian pengalaman yang sistematis, mulai dari mengingat pengetahuan awal, mengamati fenomena, melakukan penyelidikan, menjelaskan hasil, menerapkan konsep, mengevaluasi pemahaman, hingga memperluas pengetahuan melalui pengamatan di lingkungan rumah. Kegiatan tersebut mendorong keterampilan mengamati, melakukan penyelidikan, berkomunikasi, dan berkolaborasi. Pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung ini mendukung SDG 4 “Pendidikan Berkualitas” melalui pembelajaran yang aktif, bermakna, dan kontekstual.

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki komitmen dalam bidang pendidikan dan pengembangan calon pendidik, Universitas Negeri Yogyakarta terus berupaya memberikan kontribusi melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Penerapan model Learning Cycle 7E dengan kegiatan penyelidikan sederhana diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi murid serta membantu mereka membangun pemahaman berdasarkan fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan untuk menciptakan pembelajaran IPAS yang aktif, menyenangkan, dan bermakna sekaligus memberikan kontribusi berkelanjutan dalam mendukung pencapaian SDG 4 “Pendidikan Berkualitas”.