Implementasi Problem Based Learning (PBL) pada Materi Penjumlahan Bersusun untuk Mengembangkan Kemampuan Analisis dan Pemecahan Masalah Murid Kelas IIB SD Negeri Maguwoharjo 1

Pada Senin, 7 September 2026 pukul 08.10-09.20 WIB, telah dilaksanakan kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SD Negeri Maguwoharjo 1, khususnya di kelas II B. Kegiatan dilaksanakan oleh mahasiswa PK, Rosita Nur Wijayanti, dengan melibatkan murid kelas II B sebagai sasaran kegiatan. Pembelajaran dirancang dengan mengaitkan materi penjumlahan bersusun tanpa menyimpan dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education).

Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan penyajian permasalahan kontekstual yang dekat dengan kehidupan murid, seperti penayangan video kegiatan jual beli sederhana. Murid diarahkan untuk mengidentifikasi informasi yang terdapat dalam permasalahan, menentukan hal yang perlu diselesaikan, serta memilih operasi penjumlahan yang sesuai. Selanjutnya, murid bekerja secara berkelompok untuk menyelesaikan permasalahan menggunakan konsep penjumlahan bersusun tanpa menyimpan. Dalam proses tersebut, mahasiswa memberikan arahan dan pertanyaan pemantik agar murid dapat menemukan langkah penyelesaian secara mandiri bersama kelompoknya. Setelah menyelesaikan permasalahan, beberapa murid mempresentasikan hasil pekerjaannya, kemudian dilakukan pembahasan bersama untuk mengidentifikasi ketepatan proses dan hasil perhitungan. Di akhir pembelajaran, murid juga mendapatkan soal evaluasi yang dikerjakan secara individu guna untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

Penerapan PBL memberikan kesempatan kepada murid untuk tidak hanya memahami prosedur penjumlahan bersusun tanpa menyimpan, tetapi juga mengembangkan kemampuan dalam menganalisis informasi dan menentukan strategi penyelesaian masalah. Murid menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif ketika permasalahan matematika dikaitkan dengan situasi yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan diskusi dan presentasi juga memberikan ruang bagi murid untuk mengemukakan gagasan serta menjelaskan proses berpikirnya. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran dan mendukung SDGs 4 melalui pengembangan kemampuan kognitif, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, diharapkan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran matematika yang bermakna dan kontekstual. Penggunaan permasalahan kehidupan sehari-hari dalam pembelajaran diharapkan dapat terus dikembangkan agar murid mampu menghubungkan konsep matematika dengan situasi nyata serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

 

ROSITA NUR WIJAYANTI

23010630063