Belajar Perkalian dengan Jajanan Pasar berbasis Masalah, Mahasiswa PK Terapkan SDGs ke-17 di Kelas 4 SD Negeri Guwo

Mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Titis Nurfaaizah Ramdlan, melaksanakan kegiatan pembelajaran Matematika bersama murid kelas 4 di SD Negeri Guwo pada Selasa, 15 September 2026. Kegiatan pembelajaran mengangkat materi perkalian bilangan cacah sampai 100 dengan teknik susun tanpa menyimpan. Pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) yang dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penerapan PBL menjadi salah satu sarana untuk mewujudkan SDGs ke-17 melalui kerja sama dan kolaborasi antar murid dalam menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran.

            Kegiatan bertujuan untuk membantu murid memahami konsep perkalian bilangan cacah sampai 100 melalui permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu dengan menggunakan jajanan pasar. Pada orientasi masalah, murid diberikan sebuah permasalahan berupa cerita mengenai kegiatan membeli beberapa jenis jajanan pasar. Murid kemudian diminta menghitung jumlah keseluruhan makanan dari setiap jenis jajanan berdasarkan informasi yang terdapat dalam soal secara berkelompok. Untuk memperkuat pemahaman konsep, murid melakukan aktivitas menggunting, menempel, dan menghitung gambar jajanan pasar sesuai dengan permasalahan yang diberikan. Sebagai contoh, apabila dalam satu bungkus terdapat 3 lumpia dan ibu membeli 13 bungkus, murid diminta menentukan jumlah keseluruhan lumpia. Murid kemudian menempelkan gambar lumpia pada gambar bungkus sesuai dengan hasil perhitungannya sebelum menyelesaikan operasi perkalian menggunakan teknik susun tanpa menyimpan. Kegiatan ini melibatkan seluruh murid kelas 4 SD Negeri Guwo sebagai peserta pembelajaran.

            Pelaksanaan pembelajaran memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan kontekstual bagi murid. Melalui permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari serta penggunaan gambar jajanan pasar, murid dapat menghubungkan konsep perkalian dengan situasi yang mudah mereka pahami. Aktivitas menggunting, menempel, dan menghitung juga membantu murid terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Selain meningkatkan pemahaman terhadap materi perkalian, kegiatan ini mendorong kerja sama, komunikasi, dan keterlibatan antar murid. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sederhana penerapan nilai SDGs ke-17, yaitu membangun kemitraan untuk mencapai tujuan bersama dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan mendukung perkembangan murid.

            Melalui kegiatan ini, diharapkan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat terus dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Penggunaan permasalahan kontekstual dan media sederhana juga diharapkan dapat menjadi alternatif bagi guru maupun mahasiswa dalam menciptakan pembelajaran Matematika yang menarik, aktif, dan mudah dipahami murid. Ke depannya, kolaborasi antara mahasiswa Praktik Kependidikan, guru, dan murid diharapkan dapat terus terjalin sehingga kegiatan pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan bekerja sama dan berkontribusi dalam mencapai tujuan bersama.