Asyiknya Berburu Gambar Tersembunyi! Mahasiswa PK Sulap Materi KPK dan FPB Jadi Petualangan Coding Ala Anak SD

Siapa sangka, pelajaran Matematika tentang Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) bisa menjadi pintu masuk bagi murid Sekolah Dasar untuk mengenal logika dasar coding. Hal inilah yang dihadirkan oleh Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK), Lily Nurfatin Muthoharoh, dalam pembelajaran Matematika di kelas V SD Negeri Ambarukmo pada Tahun Ajaran 2026/2027, melalui LKPD bertajuk "Misteri Gambar KPK dan FPB". Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, sekaligus menumbuhkan keterampilan digital sejak dini.

Pada LKPD tersebut, setiap soal cerita diberi kode warna tertentu, sehingga murid harus terlebih dahulu menentukan faktorisasi prima dari bilangan yang diketahui, kemudian menghitung KPK atau FPB sebagai hasil akhirnya. Angka hasil perhitungan itulah yang selanjutnya dicari pada sebuah tabel berisi kumpulan angka, lalu diwarnai sesuai kode warna yang telah ditentukan pada soal. Mekanisme "hitung dulu, baru warnai sesuai aturan" ini pada dasarnya adalah bentuk sederhana dari logika kondisional yang menjadi dasar setiap bahasa pemrograman, di mana suatu tindakan hanya dijalankan apabila kondisi atau nilai tertentu terpenuhi. Tanpa disadari, murid tengah berlatih berpikir layaknya seorang programmer yang menjalankan instruksi if-then dalam kodenya.

Tabel angka yang digunakan pada LKPD ini pun sesungguhnya berfungsi layaknya sebuah grid atau larik (array) dalam pemrograman, di mana setiap sel memiliki posisi dan nilai tersendiri. Ketika murid mewarnai satu per satu sel berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, mereka sebenarnya sedang melakukan proses yang identik dengan pembuatan pixel art dalam dunia coding, yakni memberi warna pada setiap titik koordinat untuk membentuk sebuah gambar utuh. Semakin banyak sel yang diwarnai dengan tepat, semakin jelas pula gambar tersembunyi yang akan muncul di akhir kegiatan.

Menariknya, proses ini juga melatih murid untuk terbiasa dengan konsep debugging, yaitu menelusuri dan memperbaiki kesalahan dalam suatu proses logis. Apabila pola warna yang terbentuk pada tabel ternyata tidak membentuk gambar yang utuh atau tampak janggal, murid dituntut untuk kembali menelusuri langkah faktorisasi prima yang telah mereka kerjakan guna menemukan di titik mana kekeliruan terjadi, sebagaimana seorang programmer yang harus memeriksa ulang barisan kodenya ketika suatu program tidak menghasilkan luaran sebagaimana yang diharapkan. Satu kesalahan kecil dalam menentukan faktor prima dapat membuat keseluruhan "output" gambar menjadi tidak sesuai, sehingga ketelitian menjadi kunci utama dalam menyelesaikan tantangan ini.

Melalui kombinasi antara konsep matematika dan pola pikir komputasional semacam ini, murid tidak hanya diajak memahami cara kerja KPK dan FPB secara sistematis, tetapi juga dibekali fondasi computational thinking yang menjadi keterampilan esensial di era digital. Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mengasah logika ini menjadi bukti bahwa pendidikan berkualitas sebagaimana diamanatkan dalam SDG 4 dapat diwujudkan melalui inovasi sederhana di ruang kelas, mempersiapkan murid Sekolah Dasar untuk lebih siap menghadapi tantangan dunia digital sejak usia dini.