You are here
Hilangkan Kesan Sulit, Mahasiswa PK Hadirkan Papan Musi dan Puzzle untuk Belajar KPK-FPB di SD Muhammadiyah Sangonan 1
Primary tabs

Sleman, 3 September 2026 一 Mahasiswa PK, Dwi Aryani Danu Pratiwi, melaksanakan praktik mengajar Matematika di SD Muhammadiyah Sangonan 1 dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah pada materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) di kelas V. Kegiatan ini dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik. Praktik tersebut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, khususnya upaya menghadirkan proses pembelajaran yang efektif dan mendorong keterampilan peserta didik.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan mulai dari kegiatan pembuka, penyampaian materi, kegiatan kelompok, hingga penutup. Pada tahap inti, memadukan model Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan deep learning. Peserta didik tidak hanya menerima penjelasan tentang konsep KPK dan FPB, tetapi diajak memahami permasalahan, menemukan strategi penyelesaian, berdiskusi, serta mengkomunikasikan hasil pemikirannya. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan masalah, dan menghubungkan konsep matematika dengan situasi yang dipelajari. Salah satu bagian utama kegiatan adalah penggunaan Papan Musi atau papan multifungsi KPK dan FPB sebagai media pembelajaran konkret. Media ini membantu peserta didik memvisualisasikan konsep yang sebelumnya dapat terasa abstrak. Setelah pemaparan materi, peserta didik diberikan permasalahan yang harus diselesaikan dengan memanfaatkan Papan Musi. Kegiatan kemudian dilanjutkan secara berkelompok melalui puzzle matematika yang berisi soal-soal KPK dan FPB. Dalam proses tersebut, peserta didik berdiskusi untuk menentukan jawaban, mencocokkan hasil, dan menyelesaikan tantangan puzzle bersama anggota kelompok.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pencapaian kemampuan berhitung, tetapi juga pada pengalaman belajar yang aktif dan kolaboratif. Penggunaan media konkret serta aktivitas pemecahan masalah mendorong peserta didik untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan, membantu ketika peserta didik mengalami kesulitan, dan mendorong mereka untuk menjelaskan alasan di balik jawaban yang diperoleh. Dengan demikian, pembelajaran matematika menjadi lebih interaktif dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membangun pemahamannya sendiri. Praktik mengajar tersebut menunjukkan penerapan SDG 4 melalui pembelajaran yang inklusif, bermakna, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi. Penguatan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan pembelajaran di masa depan. Melalui kegiatan serupa, diharapkan kualitas proses pembelajaran di sekolah terus berkembang dan inovasi media pembelajaran dapat semakin dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan berkualitas.
Bagi peserta didik, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menghafal langkah pengerjaan. Bagi mahasiswa PK, praktik ini menjadi pengalaman dalam merancang pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan peserta didik sekaligus memanfaatkan media sederhana secara optimal. Kolaborasi antara inovasi pembelajaran dan keterlibatan aktif peserta didik diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, reflektif, dan mendukung perkembangan akademik maupun keterampilan sosial secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Copyright © 2026,