Dari Masa Dahulu ke Masa Kini: Menjelajah Perubahan Sosial Budaya dan Peninggalan Budaya melalui “Cerita dari Masa ke Masa” dalam Pembelajaran IPAS Kelas III SD Negeri Nogopuro

Pendidikan berkualitas tidak hanya tentang menyampaikan materi kepada murid, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang memberikan ruang bagi murid untuk berpikir, bekerja sama, berkomunikasi, dan terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Semangat tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Salah satu bentuk sederhana untuk mendukung tujuan tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan memberikan kesempatan kepada murid untuk aktif dalam berbagai pengalaman belajar. Semangat tersebut diterapkan dalam pembelajaran IPAS bertajuk “Cerita dari Masa ke Masa” yang dilaksanakan di kelas III SD Negeri Nogopuro pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Benedikta Gloria Anjaswari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam rangka Praktik Kependidikan (PK). Pembelajaran mengangkat materi “Dahulu, Kini, dan Nanti”, khususnya submateri “Cerita dari Masa ke Masa”, dengan fokus pada perubahan sosial budaya dan peninggalan budaya. Melalui kegiatan tersebut, prinsip SDG 4 tentang pendidikan berkualitas tidak ditempatkan sebagai materi tambahan yang harus dipelajari murid, melainkan diwujudkan melalui proses pembelajaran yang mereka jalani.

Pembelajaran dirancang menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan pendekatan Deep Learning, sehingga materi dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari dan dikembangkan melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Rangkaian kegiatan juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan kewargaan, penalaran kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Pembelajaran dimulai dengan mengajak murid memikirkan kehidupan pada masa dahulu dan masa kini melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dekat dengan pengalaman mereka. Murid kemudian mengamati beberapa benda konkret untuk menemukan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, seperti surat dan telepon genggam, koran dan berita digital, serta ulekan dengan alat penghalus modern seperti chopper atau blender. Dari pengamatan tersebut, murid menyampaikan pendapat mengenai perbedaan yang mereka temukan. Kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan video mengenai kehidupan pada masa dahulu dan masa kini. Murid kembali diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil pengamatannya sebelum diarahkan pada pembahasan mengenai perubahan sosial budaya dan peninggalan budaya. Cara tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna karena murid tidak hanya menerima penjelasan, tetapi diajak menghubungkan materi dengan benda dan pengalaman yang dapat mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman belajar kemudian dilanjutkan melalui bahan bacaan “Jelajah Masa” dan PowerPoint. Murid mengamati informasi serta contoh yang diberikan, kemudian menjawab pertanyaan secara lisan. Tahapan ini membantu murid membangun pemahaman sebelum mengikuti kegiatan yang lebih interaktif. Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam, murid kemudian diajak menjadi “Detektif Budaya”. Setiap murid memperoleh dua gambar secara acak dan menentukan kategori yang sesuai. Tujuh kategori yang digunakan terdiri atas Masa Dahulu, Masa Sekarang, Bangunan Bersejarah, Rumah Adat, Pakaian Adat, Alat Musik Tradisional, dan Permainan Tradisional. Murid maju secara bergantian untuk menempelkan gambar pada kategori yang dianggap tepat. Setelah seluruh gambar ditempelkan, hasil klasifikasi diperiksa dan dibahas bersama. Melalui kegiatan ini, murid memperoleh kesempatan untuk mengamati, menentukan pilihan, mengemukakan hasil pemikiran, serta belajar bersama teman. Pengalaman seperti ini menjadi bagian dari pendidikan berkualitas karena proses belajar tidak hanya berpusat pada penerimaan informasi, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk terlibat secara langsung. Pembelajaran kemudian berlanjut melalui LKPD yang dikerjakan secara berpasangan dengan teman sebangku. Murid menggunting dan mengelompokkan gambar berdasarkan Masa Dahulu dan Masa Kini, kemudian menempelkannya pada media berbentuk telepon genggam yang memiliki bagian untuk kedua kategori tersebut. Setelah itu, murid menyusun puzzle peninggalan budaya dan menentukan jenis peninggalan budaya yang ditampilkan. Kegiatan berpasangan memberikan ruang bagi murid untuk saling berdiskusi dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Beberapa pasangan kemudian diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas. Melalui kegiatan tersebut, kemampuan kolaborasi dan komunikasi dikembangkan secara langsung dalam proses pembelajaran. Hal ini memperlihatkan bagaimana upaya mendukung SDG 4 dapat diwujudkan melalui pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan berbagai keterampilan, bukan hanya memahami isi materi.

Untuk kembali memeriksa pemahaman murid, pembelajaran dilanjutkan dengan permainan “Benar atau Salah”. Murid menggunakan kartu tanda ✓ dan ✗ untuk memberikan jawaban terhadap pernyataan yang ditampilkan melalui PowerPoint. Sebelum menentukan jawaban, murid berdiskusi singkat dengan teman sebangku, kemudian mengangkat kartu secara bersamaan setelah aba-aba diberikan. Jawaban selanjutnya dibahas bersama sehingga murid tidak hanya mengetahui benar atau salahnya jawaban, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai materi yang sedang dipelajari. Penggunaan teknologi juga menjadi bagian dari pengalaman belajar melalui game digital interaktif “Cerita dari Masa ke Masa”. Game terdiri atas dua sesi, yaitu Perubahan Sosial Budaya dan Peninggalan Budaya, dengan lima pertanyaan pada setiap sesi. Murid menjawab pertanyaan secara bersama-sama setelah aba-aba “satu, dua, tiga” diberikan. Apabila jawaban belum tepat, murid memperoleh kesempatan untuk mencoba kembali hingga menemukan jawaban yang benar. Pemanfaatan media digital tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan pembelajaran yang menyesuaikan pengalaman belajar dengan perkembangan teknologi. Namun, teknologi tidak digunakan sebagai satu-satunya cara belajar. Media digital justru dipadukan dengan benda konkret, bahan bacaan, gambar, kegiatan menggunting dan menempel, puzzle, diskusi, serta presentasi. Perpaduan berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan berkualitas dapat dibangun melalui pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar dengan berbagai cara sesuai dengan tujuan pembelajaran. Seluruh rangkaian “Cerita dari Masa ke Masa” juga memberikan pengalaman kepada murid untuk menjalankan berbagai proses keterampilan, mulai dari mengamati, bertanya dan memprediksi, merencanakan dan melakukan penyelidikan, mengolah serta menganalisis informasi, mengevaluasi dan melakukan refleksi, hingga mengomunikasikan hasil. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan mengenai perubahan sosial budaya dan peninggalan budaya, tetapi juga pada pengembangan kemampuan yang digunakan murid selama proses belajar. Hal tersebut memperkuat keterkaitan kegiatan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Pendidikan berkualitas tidak hanya dapat dilihat dari materi yang diberikan, tetapi juga dari kesempatan yang diperoleh murid untuk berkembang melalui proses pembelajaran. Dalam kegiatan ini, murid mendapatkan ruang untuk berpikir secara kritis ketika membandingkan masa dahulu dan masa kini, bekerja sama ketika menyelesaikan LKPD dan puzzle, berkomunikasi ketika menyampaikan hasil, serta menggunakan teknologi ketika mengikuti game digital. Selain mengembangkan keterampilan tersebut, materi yang dipelajari juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal dan menghargai keberagaman budaya. Melalui pengenalan berbagai bangunan bersejarah, rumah adat, pakaian adat, alat musik tradisional, dan permainan tradisional, pembelajaran tidak hanya memperkenalkan pengetahuan budaya, tetapi juga mengajak murid melihat keberadaan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dikenal dan dihargai. Setelah seluruh kegiatan selesai, murid mengerjakan evaluasi secara individu yang terdiri atas pilihan ganda, isian singkat, dan uraian. Murid juga melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilalui. Pada bagian akhir, guru dan murid menyimpulkan kembali materi mengenai perubahan sosial budaya dari masa dahulu hingga masa kini serta berbagai peninggalan budaya sebelum pembelajaran ditutup dengan apresiasi, doa, dan salam. Pelaksanaan pembelajaran IPAS “Cerita dari Masa ke Masa” di kelas III SD Negeri Nogopuro pada akhirnya menjadi contoh sederhana bahwa kontribusi terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas dapat dimulai dari ruang kelas. Melalui pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, interaktif, dan memanfaatkan teknologi, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, bekerja sama, berkomunikasi, dan belajar melalui pengalaman yang beragam.

Bagi Benedikta Gloria Anjaswari, mahasiswa Program Studi PGSD Universitas Negeri Yogyakarta, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk menerapkan perencanaan pembelajaran secara langsung sekaligus melihat bagaimana sebuah pembelajaran dapat dirancang agar lebih bermakna bagi murid. Sementara bagi murid kelas III SD Negeri Nogopuro, “Cerita dari Masa ke Masa” menjadi ruang untuk mengenali perubahan kehidupan dan keberagaman peninggalan budaya melalui berbagai aktivitas yang saling terhubung. Pada akhirnya, mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan yang besar. Dari sebuah pembelajaran IPAS di kelas, pendidikan berkualitas dapat mulai dibangun melalui kesempatan bagi setiap murid untuk mengamati, berpikir, bertanya, bekerja sama, berkomunikasi, bereksplorasi, dan merefleksikan pengalaman belajarnya. “Cerita dari Masa ke Masa” menjadi salah satu bentuk kecil dari upaya tersebut: menghadirkan pembelajaran yang bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.

 

 

Penulis: Benedikta Gloria Anjaswari